Senin, 29 November 2010

GEOGRAFI IMAGINER TIMUR DAN BARAT (ORIENTALISME)


GEOGRAFI IMAGINER TIMUR DAN BARAT
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas ata kuliah Orientalisme


Dosen Pengampu :
Inayah Rohmaniyah

 






Disusun Oleh :
EDI PRAYITNO
09530011

JURUSAN TAFSIR HADIS
FAKULTAS USHULUDDIN, STUDI AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2010
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmaanirrohim,
            Segala pujian hanya untuk Allah, Tuhan yang Maha Pengasih dan tidak pernah pilih kasih, yang selalu menyayangi hambaNya dan senantiasa menginginkan kebaikan bagi mereka, atas rahmat dan ma’unahNya pula penulis dapat menyelesaikan penusunan makalah Orientalisme ini.
            Selanjutnya penulis menghaturkan beribu rasa terimakasih kepada segenap rekan, sahabat dan siapapun yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penyusunan makalah ini. Terutama kepada Ibu Inayah Rohmaniyah yang telah memebrikan kesempatan kepada penulis untuk belajar menyusun makalah dan belajar tentang Orientalisme.
            Akhir kata, tiada gading yang tak retak. Di atas kelebihan masih terdapat kelebihan-kelebihan yang lain. Penulis sangat sadar bahwa apa yang telah penulis lakukan ini dan apa yang telah penulis susun ini sangat jauh dari kesempurnaan. Banyak hal yang masih harus dibenahi, banyak pula ketidak tepatan dalam mengungkapkan istilah atau bahkan dalam membahas tema yang ada. Mohon para pembaca dengan kerelaan hati dan penuh ketulusan berkenan menyampaikan evaluasi, kritik maupun saran bagi penulis agar penulis dapat belajar lebih jauh dan lebih serius lagi.


Bantul, 18 Oktober 2010
Penulis






DAFTAR ISI

Halaman Judul                                                                                                                   i
Kata Pengantar                                                                                                                 ii
Daftar Isi                                                                                                                          iii 
Bab I Pendahuluan                                                                                                           1
A. Latar Belakang                                                                                                            1
B. Tujuan Penulisan                                                                                                         1
C. Rumusan Masalah                                                                                                       2
Bab II Geografi Imajiner Timur dan Barat                                                                   3
A. Pendahuluan                                                                                                                3
B. Eksistensi Timur dan Barat Berdasarkan Geografi Imajinatif                               3
C. Dampak Geografi Imajiner bagi Timur                                                                    5
Bab III Kesimpulan                                                                                                          6
Daftar Pustaka                                                                                                                  7
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
       Orientalisme merupakan suatu kajian yang sangat menarik namun juga cukup membingungkan, terutama bagi penulis sendiri. Mulai dari pengertian dan batasan orientalisme sendiri sudah cukup membuat otak berputar-putar, ditambah lagi tentang ruang lingkupnya. Dari subjeknya sendiri, siapa saja yang disebut dengan Orientalis dan apa saja objek dari penelitian para Orientalis, sangat beragam versi dan pendapat dari para ilmuwan tentangnya.
       Termasuk pada bagian pembahasan yang cukup rumit dan membingungkan menurut penulis adalah materi yang coba penulis bahas  di dalam makalah ini, yaitu “geografi imaginer timur dan barat”. Namun demikian, penulis akan mencoba memaparkan semaksimal mungkin agar “kebingungan” yang penulis rasakan ini tidak lagi dialami oleh siapa saja yang mempelajari Orientalisme. Adapun jika nanti pembahasan yang penulis kemukakan dalam makalah ini justru malah membuat para pembaca merasa semakin bingung, mohon dimaklumi. Inilah kemampuan yang penulis miliki.  

B. Tujuan Penulisan
       Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata kuliah Orientalisme yang diampu oleh Ibu Inayah Rohmaniah, di samping itu juga sebagai media berlatih dan mengasah kemampuan dalam hal tulis-menulis, terutama bagi saya sendiri sebagai penulis.

D. Rumusan Masalah
       Dalam makalah ini, penulis akan mencoba menguraikan hal-hal berikut ini :
a.       Apakah inti pembahasan “geografi imajiner timur dan barat” dalam kajian orientalisme?
b.      Siapakah tokoh yang membahas tentang “geografi imajiner timur dan barat”?
c.       Siapakah “timur” dan siapakah “barat”?
d.      Apa dan seperti apakah batas antara “timur” dan “barat”?
e.       Apakah dampak dari adanya pembagian wilayah antara “timur” dan “barat” itu bagi “timur” sendiri?
f.       Bagaimanakah “barat” menggambarkan tentang dunia “timur”?





























BAB II
GEOGRAFI IMAJINER TIMUR DAN BARAT

A. Pendahuluan
       “Geografi Imajinatif” dalam kajian orientalisme dikemukakan oleh Edward W. Said dalam bukunya yang berjudul Orientalisme. Nampaknya, hanya Edward said lah satu-satunya orientalis yang membahas tentang hal ini. Penulis sendiri telah mencoba mencari-cari buku tentang Orientalisme yang di dalamnya membahas tentang hal ini, namun ternyata sulit untuk ditemukan. Mungkin memang benar, bahwa hanyalah Edward Said yang mengangkat tema ini dalam kajian Orientalisme. Adapun para peneliti-peneliti ataupun penulis buku Orientalisme yang lain atau hal-hal yang berkaitan dengannya, yang mengangkat tema ini, nampaknya hanya mengembangkan atau mengutip pembicaraan Edward. Dan buku-buku yang mereka tulis itu pun, tidak penulis temukan di perpustakaan universitas. Penulis sebenarnya ingin membeli buku-buku tersebut di toko buku, namun terhalang oleh keterbatasan dana.
       Dalam materi “geografi imajiner Timur dan Barat” ini, pada intinya hal yang dibicarakan adalah mengenai eksistensi Timur dan pandangan orang-orang Barat terhadap mereka serta batas antara penyebutan wilayah Timur dan Barat yang semua ini berdasar pandangan orang-orang Barat, bukan dari orang timur sendiri. Adapun penjelasan lebih detail akan penulis kemukakan pada poin-poin berikutnya.

B. Eksistensi Timur dan Barat Berdasarkan Geografi Imajinatif
       Penyebutan Timur dan Barat sebenarnya adalah hasil dari pemikiran manusia sendiri yang menciptakan batasan dan gambaran antara keduanya, terutama para Orientalis yang merupakan penghuni dunia bagian Barat[1]. Akan tetapi, batas-batas dan wilayah antara dua bagian tersebut sebenarnya hanya dapat digambarkan di dalam imajinasi mereka. Batas tersebut mereka cipatakan dengan mengidentifikasikan letak wilayah, karakter, ciri khas, ras-ras dan lain-lain.
       Sedangkan batas wilayah antara Timur dan Barat adalah Timur meliputi wilayah benua Asia dan Barat meliputi wilayah benua Eropa.
       Menurut Edward, hubungan antara Timur dan Barat adalah hubungan kekuatan, kekuasaan dan dominasi Barat terhadap timur. Timur ditimurkan bukan hanya karena bersifat timur tetapi juga karena “mudah ditimurkan”. Sebagai contoh adalah paparan Flaubert tentang Wanita Timur. Flaubert menggambarkan seorang pelacur Mesir yang ia kenal dengan bahasa dan gambarannya sendiri. Dia sendirilah yang mengutarakan bagaimana dan seperti apa Wanita Timur itu, bukan wanita itu yang bercerita. Gambaran tentang wanita mesir ini mempunyai pengaruh yang sangat luas. Ini adalah salah satu wujud hungungan kekuatan antara Barat dan Timur dan bahasa tentang Timur yang dapat dikatakan oleh Barat secara bebas.
       Lebih dari itu, menurut Edward, sebenarnya Orientalisme lebih tepat disebut sebagai gagasan Eropa.  Hal ini dikarenakan penilaian dan anggapan tentang Timur diutarakan oleh Barat sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Mengenai realitas dan kebenarannya tidak diperhitungkan. Pada awalnya, Timur sendiri tidak menyadari akan hal ini, namun dengan munculnya Edward, orang-orang Timur menjadi sadar bahwa mereka sedang didominasi oleh barat dalam mengutarakan diri mereka sendiri.
       Sekali lagi, ini semua adalah bersumber dari hubungan kekuatan Barat dan Timur. Barat lebih cenderung mendominasi Timur. Sehingga apapun yang mereka katakan tentang timur, menurut mereka, adalah fakta yang telah melalui proses penelitian secara objektif. Padahal, kebanyakan lebih cenderung menjadikan Timur di bawah mereka. Semua ini dilator belakangi kepentingan politis Barat, untuk kepentingan Barat.
       Timur, bagi Barat dianggap sebagai tempat dan kawasan yang “lain”. Bahkan, menurut Edward, Timur diibaratkan panggung teater di mana orang Barat lah yang menjadi sutradaranya. Maka, mereka menciptakan gambaran geografis mengenai Timur dan Barat dalam imajinasi setiap orang, termasuk dalam diri mereka sendri dan dengan bahasa mereka sendiri pula yang di dalamnya banyak terdapat unsur pendominasian.


C. Dampak Geografi Imajiner bagi Timur
       Setelah orang Barat mengemukakan gambaran tentang siapa Timur, di manakah Timur selanjutnya mereka menggambarkan seperti apa dan bagaimana Timur itu. Apa yang mereka gambarkan dan apa yang mereka sosialisasikan tentang timur, lagi-lagi masih tetap dengan asumsi, bahasa dan gaya mereka sendiri. Semua itu masih tetap dengan pendominasian sehingga, seakan-akan mereka memiliki kebenaran mutlak dalam menggambarkan dunia Timur.
       Sebagai contoh, ungkapan mereka tentang Islam, khususnya Nabi Muhammad saw. Kata mereka, Muhammad tidak lain adalah seorang penipu.[2] Muhammad dikatakan sebagai penyebar wahyu palsu. Bahkan, dianggap pula sebagai jelmaan nafsu seks yang besar, kebejadan moral, sodomi dan beragam sifat buruk lainnya yang mengarah pada status kepalsuan dan penghianatannya.
       Jika kita baca buku Edward Said yang banyak dipakai dalam pembelajaran studi Orientalisme itu, maka di sana banyak sekali kita temukan contoh-contoh bentuk pendominasian Barat melalui pemikiran para Orientalis dalam menggambarkan “sosok Timur” itu. Pada awalnya, orang-orang Timur sendiri tidak tahu sehingga mereka merasa tenang saja tatkala mereka dijadikan o jek penelitian, bahkan orang-orang Barat yang ikut mengkonsumsi hasil dari penelitian itu juga tidak membuktikan benar atau salahnya. Barangkali memang karena mereka tahu siapa orang-orang yang melakukan npenelitian itu, yang menurut mereka adalah orang-orang besar, sehingga kroscek terhadap karya mereka tidak terlalu diperlukan. Padahal, kenyataannya seperti yang telah penulis kemukakan tadi.
       Dengan hadirnya buku Orientalisme yang ditulis oleh Edward, banyak orang yang terpukau dan keget. Di antara Orientalis yang banyak berbicara tentang timur, menurut sebagian orang, Edward lah yang dengan jujur dan apa adanya mengemukakan tentang Timur. Bahkan, menurut Nur Fauzan Ahmad, dari hasil pencarian yang penulis daparkan di internet, dia mengemukakan bahwa buku Edwar ini mengajarkan agar kita selalu berhati-hati tentang apapun dan siapapun yang berbicara tentang Timur karena rata-rata Barat menjadikan Timur sebagai orang lain dengan maksud menghilangkan suara Timur sendiri.[3]
BAB III
KESIMPULAN

            Dari semuja penjelasan yang telah penulis sampaikan sebelumnya, penulis ingin menyimpulkan bahwa wilayah geografis antara timur dan barat, sulit ditentukan secara faktual. Batas-batas yang ada sebenarnya hanyalah merupakan gambaran imajinasi yang terlintas di benak orang-orang Barat. Batas itu mereka ciptakan untuk lebih mudah mengidentifikasikan timur dengan aneka bahasa dan karakter-karakter sesuai dengan keinginan Barat sendiri yang semuanya lebih cenderung disertai pendominasian. Sikap dominan yang dimiliki Barat itu adalah untuk kepentingan politis. Mereka ingin menjadikan timur sebagai satu wilayah yang kehilangan eksistensi dan tidak memiliki suara.
            Dampak dari adanya geografi imajiner ini adalah adanya pembentukan karakter dan keadaan yang beraneka macam yang dimiliki Timur atas inisiatif barat yang di dalamnya banyak unsur kebohongan dan kepalsuan. Barat, khususnya kaum Orientalis menyatakan tentang timur tidak dengan kejujuran, bukan seperti sebenarnya namun cenderung lebih mengunggulkan kelemahan dan kekurangannya.  
            Edward Said memberikan sumbangan yang cukup berharga dan berarti bagi perkembangan Orientalis, setidaknya untuk memperbaiki citra Orientalis. Lebih dari itu Edward dapat membuka mata setiap orang agar lebih berhati-hati dalam menilai dan menerima berita tentang Timur.
           






      



DAFTAR PUSTAKA

Said, Edward W., Orientalisme, Bandung : Penerbit Pustaka, 1994

www.tokohbangsa.wordpress.com

www.banker-makalah.blogspot.com

www.kaskus.com

Google, Timur di Mata Barat : Teori Pos Kolonial
Google, Timur dan Barat dalam Geografi Imajinatif.


















[1] Edward W. Said, Orientalisme (terjemah oleh Asep Hikmat, Bandung : Penerbit Pustaka, 1994),hlm.6
[2] Edward W. Said, Orientalisme (Bandung : Penerbit Pustaka, 1994), hlm. 81
[3] www.banker-makalah.blogspot.com